
Senin, 13 Februari 2006
Investor bisa langsung menjadi eksekutor dari ordernya sendiri.
Mungkinkah galeri bursa efek, tempat jual beli saham, yang kini terpusat di lantai dasar Bursa Efek Jakarta (BEJ) dengan 444 terminal komputer dipindahkan ke rumah Anda? Mungkinkah Anda bisa bermain saham dari rumah atau dari ruang kerja Anda? Mungkinkah saat Anda berlibur main golf atau sedang memancing, atau sedang mendaki gunung bisa tetap memantau harga saham di BEJ secara real time dan bisa melakukan transaksi?
Andai pertanyaan semacam itu dilontarkan setahun lalu, jawabnya pasti, tidak atau tidak mungkin. Tapi kini, semua pertanyaan itu bisa dijawab dengan singkat: bisa. Mulai Maret bulan depan, investor di manapun ia berada bisa bermain saham di BEJ sesuka hatinya. Investor bisa mencari gain tanpa harus keluar rumah atau angkat telpon untuk menyampaikan order. Sebab mulai Maret, BEJ secara resmi akan menerapkan sistem perdagangan jarak jauh (remote trading).
Remote trading bukan sekadar transaksi jarak jauh via telepon atau faksimil. Dengan teknologi generasi baru dari the Jakarta Automated Trading System (JATS) ini, investor bisa membuat terminal sendiri di rumah yang terkoneksi dengan jaringan sistem perusahaan efek anggota bursa (PE AB). Melalui terminal komputer itulah, investor bisa memasukkan order beli atau jual ke dalam jaringan sistem remote trading. Sarana untuk membuka jalur koneksi sistem ini bisa macam-macam. Bisa melalui internet, yang kini dikenal dengan istilah online trading, tapi bisa juga dilakukan melalui jaringan lease line.
''Semua persiapan ke arah sana sudah dilakukan,'' kata Direktur Perdagangan BEJ MS Sembiring di Jakarta pekan lalu. BEJ sendiri sudah 'gatal' untuk segera menerapkan sistem perdagangan yang berbasis teknologi baru ini. Hanya saja, masih ada beberapa perusahaan efek anggota bursa (PE AB) yang hingga saat ini belum men-set up perangkat untuk remote trading. Dari 123 PE AB yang ada, sampai Kamis (9/2) kemarin sudah 82 yang siap untuk melaksanakan remote trading (Baca: Memperpendek Business Cycle). Sisanya diharapkan bisa sudah siap pada Maret sebelum system itu sendiri diresmikan penggunaannya.
Dengan sistem ini, praktis keberadaan lantai perdagangan di BEJ bukan satu keharusan. Sebab fungsi lantai itu sendiri telah berpindah ke setiap kantor PE AB. Bahkan melalui jaringan sistem PE AB, fungsi floor trader itu bisa dipindahkan ke ruang rumah Anda. ''Investor bisa langsung menjadi eksekutor dari ordernya sendiri,'' kata Sembiring. Investor bisa memantau secara real time aktifitas jual beli saham yang terjadi.
Selanjutnya terserah investor untuk memilih apakah ia ingin langsung menjadi eksekutor dari setiap order transaksi yang disampaikannya ataukah tetap dengan pola konvensional yang selama ini dilakukan, menyampaikan order per telepon ke dealer di perusahaan efek (PE) tempat ia membuka rekening. Dengan begitu, investor tinggal memilih apakah membuka galeri sendiri di rumahnya atau tetap dengan system lama.
Terlambat
Apa tanggapan investor? ''Saya sangat mendukung dan senang sekali,'' aku Dadang, investor ritel. Hanya saja untuk transaksi langsung dari rumah dengan memanfaatkan teknologi internet, Dadang masih berpikir. ''Biayanya apa tidak mahal ya kalau memakai internet. Untuk saya sih mungkin masih lebih murah jika berdagang di galeri perusahaan efek,'' akunya.
Meski begitu di mata Santo, juga investor, penerapan remote trading di BEJ agak terlambat. Ia menunjuk bursa-bursa luar negeri yang sudah menerapkannya sejak beberapa tahun lalu, seperti WallStreet, Nasdaq, Nikkei dan London Stock Exchange. ''Sudah beberapa tahun lalu, bursa luar negeri menerapkannya. Siapapun dengan mudah melakukan transaksi secara real time. Bahkan tidak sedikit yang menawarkan biaya rendah dan paket simulasi. Aplikasi untuk membuka rekening juga sudah dilakukan secara online,'' ujarnya yang mengaku pernah main secara online di Nasdaq.
Toh, Santo bersyukur karena BEJ kini sudah mulai bisa mengikuti teknologi pasar modal yang modern. Ia berharap penerapan ini bisa menjadikan industri pasar modal lebih efisien sehingga fee transaksi yang dikenakan pada investor bisa dikurangi lagi. Selain itu ia berharap, penerapan remote trading di BEJ tidak mengulang kesalahan yang disebabkan oleh human error. ''Jangan sampai order salah gara-gara kelemahan teknologi. Misalnya order seratus lot, masuknya seribu lot,'' katanya. Jika kesalahan kecil seperti itu terjadi, investor tidak akan mau lagi memakai teknologi seperti itu.
Keterlambatan yang disampaikan Santo tidak 100 persen benar. Meski BEJ belum secara resmi menerapkan remote trading, tapi beberapa PE AB sudah berani melakukannya. Sebut saja e-trading Securities, Sarijaya Securities, Trimegah Securities dan beberapa lagi. Mereka ini sudah sejak lama menerapkan transaksi jarak jauh. Bahkan di e-trading, menurut General Manager Arisandhi Indrowisatio, 80% nasabahnya melakukan transaksi jarak jauh lewat internet. ''Kami beri software ke nasabah supaya bisa akses lewat internet,'' jelasnya.
Penerapan system perdagangan jarak jauh ini membuka peluang bisnis yang lebih besar untuk perusahaan efek (PE) non anggota bursa (AB). PE non AB bisa menjalin pola kemitraan dengan AB. Tanpa harus membangun satu system internal yang rumit dengan back office yang kuat, PE non AB bisa menjalankan bisnis dengan potensi keuntungannya tidak kalah dengan PE AB. Selain itu, system remote trading ini akan menumbuhkan munculnya PE non AB di daerah-daerah. Mereka tidak perlu modal besar untuk bisa melakukan transaksi di BEJ. ''PE non AB ini akan menjadi distribution channel. Ia berfungsi sebagai marketing. Sedangkan, semua administrasi atau urusan back office tetap ditangani oleh anggota bursa,'' jelas Sembiring.
(tim BEJ )Ref : http://www.infoanda.com/linksfollow.php?lh=AFJVV1cMVlFV